Rabu, 25 April 2012

DO'A DIANTARA DUA SUJUD


DO’A DIANTARA DUA SUJUD
Dikutip oleh Seem R. Canggu, SE.MM. 
dari catatan Hari Priyantoro
                       


Integritas kemanusiaan dalam disiplin Islam sebenarnya sederhana, bisa terbaca dalam doa : Rabbighfirli warhamni wajburni warfa'ni warzuqni wahdini wa'afini wa'fu 'anni. Dalam konsep dialektika dalam Islam yang paling mendasar ada dua : Adil dan Wajar. Sikap Adil adalah prasyarat utama dalam memahami Islam dalam konteks hubungan manusia, sementara wajar adalah konteks pemahaman manusia atas dirinya sendiri. Dalam sikap wajar, doa Rabbighfirli warhamni wajburni warfa'ni warzuqni wahdini wa'afini wa'fu 'anni adalah sebuah langkah sederhana dalam memahami kemanusiaan kita. 



Pertama Rabbighfirli berarti Ampuni Aku. Sifat manusia yang utama adalah Khilaf, Lupa. Dalam kemanusiaan diperlukan pengampunan berulang-ulang, dalam lupa manusia justru menemukan kemanusiaannya, sehingga konteks pengampunan itu menjadi ruang besar manusia menemui alam Ketuhanannya. Manusia harus terus meminta ampun pada Tuhan, ketika manusia meminta ampun pada Tuhan, sang Pemberi hidup maka manusia justru diingatkan bahwa dirinya adalah lemah, ketika dirinya teringat akan kelemahan disitulah manusia justru menemukan konteks paling substantif kemanusiaannya yaitu : "Bahwa dirinya adalah rumusan takdir, bagian dari hukum Tuhan". Pengampunan adalah konsep pengenalan pertama dalam Islam.

Kedua Warhamni, artinya adalah 'sayangi aku'. Inti dari kemanusiaan adalah ketika manusia itu mampu membangkitkan rasa sayang dalam dirinya, rasa sayang itu bukan berarti konotasi 'memiliki' tapi berarti membangkitkan 'cinta', membangkitkan alam bahagia manusia pada alam lingkungannya, pada manusia lain, pada masyarakat. Ketika manusia menemui kasih sayang itu, ia bertindak dalam kasih sayang, detik itu juga Allah swt akan menyayangi, kasih sayang tumbuh dalam dirinya, dan mendapatkan cahaya maha cahaya dari kasih sayang Tuhan berupa hati yang damai, teduh dan bahagia.

Ketiga, Wajburni, cukupkan kekuranganku. Kemanusiaan yang Manusia adalah mengakui bahwa ia memiliki kekurangan, tapi hakikat 'kekurangan' dalam Islam bukan kekurangan konteks materi, namun konteks 'hati' yang membentuk tabiat. Tabiat inilah yang kemudian diminta agar dicukupkan, diseimbangkan, sehingga tidak menjadi berlebih-lebihan, bila kita adalah orang pendengki, pendendam, pemarah, tak adil, pengeluh, cerewet, pencemburu maka itu adalah kekurangan dalam tabiat yang menghalangi kemanusiaan untuk menemui 'Jalan Tuhan'. Sifat itu yang pelan-pelan dikurangi, lewat disiplin Shalat dan disiplin doa secara terus menerus.

Keempat Warfa'ni, tinggikan derajatku. Kemanusiaan yang Manusia adalah Kemanusiaan yang paham akan posisi. Konteks derajat disini bukan derajat tahta, atau gengsi sosial. Tapi derajat kemanusiaan yang dinilai Allah swt, derajat kemanusiaan itu adalah ketika "manusia bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan'. "Manfaat atas kehadiran inilah" yang membuat manusia ditinggikan derajatnya, dan bisa mempermudah kehidupan orang banyak. Sebagai Rahmatan Lil Alamin.

Kelima Warzuqni, berikan aku rejeki. Dalam Islam rejeki bukanlah sebuah jalan manusia untuk mendapatkan harta yang berlimpah untuk bermewah-mewah. Rasulullah tidak pernah mengajarkan untuk hidup bermewah-mewah, tapi Rasulullah menunjukkan pada umatnya bahwa Rejeki adalah 'keberkahan'. Sesuatu yang didapatkan dan 'menimbulkan hal-hal baik'. Itulah rejeki sebaik-baiknya rejeki. Bila kau mendapatkan rejeki, hidupmu bahagia, jiwamu tenang, dan kau selalu mengucapkan syukur serta rejekimu bermanfaat bagi orang banyak, maka kau sudah memahami konteks doa 'Warzuqni'.

Keenam Wahdini, Tunjukkan aku. Dalam Islam justru hubungan antara Allah swt dan Manusia tidak ada sekat, tidak ada sistem kependetaan dalam Islam. Disini manusia bisa langsung memohon pada Allah swt dalam shalatnya, dalam dzikirnya dalam doa-nya tentang 'Wahdini'. "Tuntunan" "Tunjukkan". Disini Manusia melatih agar setiap langkahnya tenang, pertama ia harus rajin membaca Al Qur'an, memaknainya secara khusyu. Ketika manusia sudah mampu membaca Al Qur'an dalam kalbunya, maka setiap langkahnya akan dituntun oleh Allah swt, lewat banyak kejadian yang membuat dirinya lebih sabar dan bersyukur. Tuntunan hidup itu penting karena setiap fase kehidupan kita, baik kegembiraan, kesedihan dan lain sebagainya adalah kegembiraan dengan penuh cinta, dengan petunjuk Allah swt.

Ketujuh Wa'afini, sehatkan aku. Hadiah terbesar dari Allah swt kepada manusia ada dua yaitu "kesehatan dan waktu" maknai itu dengan dalam. Kesehatan adalah cara terbaik manusia agar bisa tenang bekerja, agar seluruh hidupnya menjadi manfaat, Sehat disini bukan berarti hanya fisik, tapi juga mental, kesehatan mental yang baik menjaga kita dari perbuatan-perbuatan buruk dan menyimpang. Sehat jiwa dan raga adalah idaman bagi kemanusiaan yang utuh.

Kedelapan, Wa'fu'anni, maafkan aku. Rangkaian diatas Rabbighfirli warhamni wajburni warfa'ni warzuqni wahdini wa'afini, adalah tindakan, gerak manusia dalam gerak manusia ada unsur lupa, ada unsur khilaf, bila diawal doa adalah Rabbigfirli, Pengampunan, maka terakhir adalah Permintaan maaf. Kelebihan terbesar manusia adalah 'Kemampuan seseorang dalam meminta maaf" dalam Maaf ada penyadaran, kesadaran adalah pokok dari segala pokok disiplin manusia dalam beragama.

Demikianlah makna doa Rabbighfirli warhamni wajburni warfa'ni warzuqni wahdini wa'afini wa'fu 'anni. Sebuah doa sederhana yang banyak dihapal jutaan umat muslim dan bisa dijadikan patokan dalam menjalani hidup. Semoga kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat dan bersyukur diberikan Allah swt tentang KeIslaman dalam hidup kita..... Aamiin, ya Robbalamien. (SRC)

6 komentar: