Senin, 12 Maret 2012

BERJUMPA MALAIKAT

BERJUMPA MALAIKAT
Oleh : Beni Haryanto
 cerita ini sangat baik sehingga wajib di baca (Red)

Sudah menjadi pemandangan sehari-hari jika naik angkutan umum, kita akan di suguhi bermacam-macam gaya dan tingkah para pengamen. Pedagang asongan tak mau ketinggalan seperti prajurit ketinggalan perang menjajakan barang dagangannya, melantunkan suara-suara usang, memotong mimpi-mimpi yang terlampau panjang bagi para penumpang yang datang ke kota yang katanya tidak pernah lengang. Mereka dengan suara khas berkoar "kue kue, minuman dingin-minuman dingin atau koran-koran" yang makin akrab di telinga. Bus jurusan Merak-Tanjung Priuk yang saya tumpangi sudah keluar tol dan dari jendela sebelah kanan nampak kampus UNTAR dan TRISAKTI berdiri kokoh mengingatkan aku tentang tragedi berdarah tahun 1998.


Matahari sudah meninggi, sinarnya masuk menyapa ku pagi itu dan menyapa hiruk pikuk bisingnya Ibukota. Penumpang dan pengamen jalanan sudah naik turun saling berebutan, ada yang ngamen modal bacot doang. Sebenarnya sih sudah dongkol melihat mereka, karena uang receh sudah habis diberikan dengan pengamen yang naik sebelumnya. Justru yang modal bacot itu sepertinya sudah tahu kalau para penumpang sudah letih melihat mereka. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. dan Salam sejahtera buat kita semua. Seperti biasa kami pengamen Ibu kota menyapa kalian semua" dan seterusnya ceramah pengamen itu di depan sana sambil pegangan di gantungan bus. Ujung-ujungnya "kami tidak butuh keangkuhan dan kesombongan kalian". dan minta duit kusambung spontan dalam hati. Kupikir-pikir tidak ada salahnya memberi lagi, toh aku sekali-sekali naik bus. Dengan uang sedikit lebih karena uang receh habis ku sodorkan ikhlas gak ikhlas. Aku memberi bukan karena tampang mereka yang preman, tapi lebih menghargai seni bahasa mereka yang memukau. Seperti kata pengamen tadi semoga Tuhan mengganti rizki yang lebih banyak lagi jika bersedekah. Heheee.. ngarepnya.

Sebelum bus memasuki gerbang tol jurusan Tanjung Priuk, naik gadis kecil umur 10 tahunan membawa speaker berikut mikroponnya. Memang lajunya bus agak tersendat,  di samping karena memang jalanan macet yang entah kapan kemacetan akan hilang dari jakarta, juga kenek bus yang tidak henti-hentinya berteriak "Priuk.. Priuk...Priuk..." mencari penumpang bersaing dengan bus yang lain. Gadis kecil itu tak luput dari perhatian ku, penampilannya yang lusuh, imut dan tenang namun agak sempoyongan dia berjalan mengimbangi bus yang terus melaju. Sangat prihatin sekali, jika saudara ku seperti itu, tak akan aku relakan mencari nafkah seperti ini. Ya sama saja dengan pengamen serang dan tangerang sebelumnya, dia mohon maaf mengganggu ketenangan para penumpang atas kehadirannya dan saya akan membawakan lagu dari grup Band yang lagi naik daun katanya kekanak-kanakan. masih sebegitu kecilnya sigadis sudah berjuang mencari rizki sendiri, mana ibu dan bapaknya, sekolah apa tidak, aku membatin iba. dan lamunan ku buyar setelah mendengar suara speaker yang dia bawa, musiknya tidak asing lagi karena sudah sering aku dengar.

Semuanya telah kuberi.
Dengan kesungguhan hati untukmu.
Hanya untukmu.
Tak perlu kau tanya lagi.
Siapa pemilik hati ini kau tau.
Pasti untukmu.

Tolong liat aku, dan jawab pertanyaanku.
Mau di bawa kemana hubungan kita.

Lagunya bagus atau memang suara gadis kecil itu yang menyayat jantung, lagu Armada yang berjudul "Mau di bawa kemana" sangat berbeda dengan yang di bawakan vokalis Armada itu sendiri, seakan-akan merintih dia bertanya "Mau di bawa kemana hubungan kita". Semua terpana, semua termangu, tak terkecuali kenek bus itu sendiri terdiam mendengar alunan merdu pilu sigadis. Sangat mendukung suara emas dengan penghayatan air mukanya. saat dia melantunkan bait  "Tolong liat aku, dan jawab pertanyaanku.." begitu dalam dan begitu berpengaruh seolah dia meratapi mengapa nasibnya begitu. Saya yang memilih duduk di bangku belakang cuma bisa menatap nanar. Lirik lagu itu seperti berubah makna, tidak menggambarkan masalah percintaan remaja, justru seperti anak mengadu kepada Ibunya minta tanggung jawab kasih sayangnya yang terenggut oleh kejamnya Ibukota. terasa begitu singkat alunan lagu yang di bawakan gadis itu selesai jua. Setelah musiknya berhenti langsung saja dia menjulurkan tangannya kekanan kiri minta belas kasihan para penumpang. tidak ada plastik permen di tangan, hanya dengan tangan telanjang saja dia meminta. Sudah separuh dari penumpang bus itu yang dia minta cuma mendapatkan uang koin beberapa keping. Saya sendiri mengharapkan semoga dia bisa mendapatkan imbalan lebih, karena kasihan tanpa pikir panjang saya langsung mengeluarkan uang dari dompet dan saya lipat kecil biar tidak terlalu ketara, saya perhitungkan cukup buat dia makan sekali atau dua kali. Pintu tol sudah makin nampak dan gadis kecil itu sudah makin dekat pada ku dan tanpa lelah dia tengadahkan tangannya di depan para penumpang.

Belum saja gadis imut itu sampai kepada ku, dari pintu belakang naik ibu-ibu berpakaian muslimah separuh baya membawa map plastik, masih sempat aku baca tulisan di map itu, SANTUNAN UNTUK ANAK-ANAK YATIM. Waduh kapan selesainya aku pikir yang meminta santunan di negri ini, aku sudah merasa sangat terganggu karena tidak kunjung habis yang naik. Untuk penumpang terahir yang akan di minta gadis itu adalah saya sendiri, berhimpitan dengan perempuan separuh baya tadi dia menghampiri ku, dan langsung aku masukkan lipatan uang itu kedalam genggamannya. Setelah gadis mungil itu dapat uang dari ku, dia langsung membalikkan badannya dan berseru "Ibuu.. Tunggu" katanya memanggil perempuan yang baru naik tadi. tergopoh gopoh dia menghampiri ibu separuh baya itu dan sedikit bingung disertai wajah kecapean dia menghitung helaian uang yang ada di genggamannya. mau ngapain ini anak aku membatin. Hampir seluruh uang yang di tangannya jelas aku lihat di masukkannya di dalam map plastik si-ibu. sehingga yang tersisa di genggamannya tinggal beberapa keping koin. Kaget dan  seakan tak percaya ibu tadi dapat sumbangan begitu cepat, apa lagi dari anak seperti dia yang mungkin ketemu nasi siang dan sorenya tidak menentu, Sungguh sesuatu yang mustahil jika tidak di saksikan sendiri. Ibu tadi bilang "makasih ya nak" katanya terbata sambil ngusap rambut sigadis dan hendak mencium pipinya tetapi nihil karena belum sempat dicium gadis itu sudah berbalik dan melompat turun dari bus yang kebetulan sedang berhenti.

Beni Haryanto
Aku tercengang dan dada ku terasa sesak menahan haru menyaksikan kejadian yang begitu dramatis di depan mata. Pemandangan apa lagi Ya Allah yang mau Kau perlihatkan kepadaku. Seakan tak sadar aku berdiri mengintip kemana larinya gadis kecil itu untuk terahir kalinya. tak keburu karena tubuhnya sudah lenyap di sela-sela mobil motor yang berdesak desakan. Ingin rasanya aku mengejarnya dan menangis karena kepolosan dan ketulusannya mencambuk sanubari. Rasa bersalah akan angkuh dan sombong begitu mendera batinku. betapa jiwa ini di kangkangi nafsu tamak tak pernah merasa cukup akan harta, dan tidak bersyukur kepada Tuhan. Bus makin menjauh meninggalkan tempat gadis itu turun karena sudah masuk tol jembatan layang menuju Tanjung Priuk. Begitu yakinkah gadis itu akan rizkinya hari ini sehingga hampir seluruhnya pendapatannya dia infakkan. Dengan tubuh gemetar aku tertunduk, lindungi anak itu Ya Tuhan pintaku dalam do'a. Sedangkan apa yang di sampaikan perempuan separuh baya di depan sana tak kuindahkan lagi. Begitu nyata ku bayangkan tangan mungil si gadis memasukkan uang kedalam map plastik punya perempuan tadi. sebenarnya ibu tadi berusaha menolak, tapi karena begitu cepat akhirnya si Ibu cuma bisa bengong. Tiba tiba aku dikejutkan sebuah suara "maaf ya mas" dan aku mendongak mencari asal suara ternyata perempuan separuh baya tadi menyodorkan sebuah amplop, dan langsung ku terima tanpa basa basi,  amplop itu ditempeli potongan kertas poto kopian yang ada tulisan arab berikut artinya. Dengan mata berkaca-kaca ku baca arti dari ayat tersebut. Sungguh sebagian rizki ku adalah hak anak-anak yatim hati kecilku bicara, dan jauh sebelum aku paham gadis kecil itu sudah lebih dahulu mengerti makna dari ayat tersebut.

Itulah kisah sekitar 2 tahun yang lalu dikala aku masih bertualang di ranah Banten. terkadang orang yang dalam pandangan mata kita hina, justru memiliki hati yang sangat mulia bagaikan Malaikat. Dengan perantara kisah gadis kecil itu semoga pintu hatiku dan hati kita semua menghembuskan keikhlasan, lebih terketuk untuk saling berbagi. Jika aku mendengar lagu Armada yang berjudul "Mau di bawa kemana" memory itu terkenang kembali, aku terenyuh ingat akan gadis itu, geliat berjuang hidup anak manusia di tengah himpitan nafas yang terengah-engah. terus terang aku sendiri tidak bisa menguraikan hikmah dan pelajaran apa yang bisa di petik di balik cerita ini.

Serang-Jakarta.

buat puakhi BENI, terimakasih sudah menginspirasi.
kilu mahaf sikindua wat penyempurnaan cutik-cutik.(SRC)

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar