RUMAH ETNIS LAMPUNG
Oleh : Seem R. Canggu,
SE.MM.
Etnis Lampung
dalam tata nilai budayanya terbagi dalam dua sistim adat yaitu
"SAI BATIN" dan "PEPADUN". Rumah oleh komunitas adat "Sai Batin" disebut "LAMBAN" sedangkan oleh komunitas adat "Pepadun" disebut "NUWO" atau “NUWA” |
![]() |
Rumah Tradisionil Lampung di Pekon Kenali poto : Aspara |
Rumah orang Lampung biasanya
didirikan di dekat sungai atau mata air dan berjajar rapi di sepanjang jalan
utama yang membelah kampung yang dalam bahasa Lampung disebut “pekon/tiyuh”, dengan
halaman yang luas, sehingga perkampungan orang Lampung merupakan perkampungan
yang tertata dan asri.
Penyusunan posisi bangunan rumahnya
mempertimbangkan “jujjokh/akad tindih” yaitu hirarki, biasanya apabila rumah kakak beradik akan didirikan bersebelahan, maka rumah untuk anak tertua didirikan menghadap atau mengarah ke matahari terbit, karena merupakan suatu pantangan bagi orang Lampung apabila rumah anak tertua ditutupi oleh rumah adiknya, demikian juga untuk seseorang yang kedudukan adatnya lebih tinggi di
dalam satu kelompok adat (“jukku/kebu”) rumahnya dibangun mengarah ke matahari terbit baru kemudian disebelahnya diikuti oleh
rumah-rumah yang lainnya sesuai hirarki.
A.
Arsitektur Rumah Etnis Lampung.
Rumah-rumah di wilayah Kerajaan Adat
Paksi Pak Sekala Brak yaitu Kepaksian PERNONG, Kepaksian BELUNGUH,
Kepaksian BEJALAN DIWAY dan Kepaksian NYERUPA, (baca sekilas Kerajaan Paksi Pak
Sekala Brak di blog ini) terdiri dari rumah panggung, terbuat dari
kayu beratap ijuk, dan tiap-tiap tiangnya dialas dengan batu putih bersusun tiga seperti tungku, sebagaimana yang terdapat pada gambar rumah tradisionil di pekon Kenali, sehingga elastis pada saat digoyang gempa, namun dalam perkembangannya atap ijuk hampir tidak
ditemukan lagi dan dengan mempertimbangkan curah hujan yang tinggi serta
semakin terbatasnya bahan baku ijuk, maka kebanyakan berubah menjadi atap seng yang
bahannya mudah ditemukan di pasaran dan relatif tahan terhadap curah hujan.
Menurut “wawarahan” cerita yang
diceritakan secara turun temurun dibuatnya rumah panggung dengan
mempertimbangkan beberapa hal antara lain :
1. Pada zaman dahulu masih banyak
binatang buas, sehingga apabila rumah tinggal dibuat tinggi, akan relatif lebih
aman dari serangan binatang buas.
2. Karena kondisi alam Bumi Sekala Brak
yang bersuhu dingin, sehingga dengan rumah tinggi akan mengurangi kedinginan
yang besumber dari tanah.
Arsitekturnya disebut “Lamban
Pesagi” karena rumahnya berbentuk persegi empat dan tinggi, serta karena
terbuat dari kayu sehingga terbukti tahan gempa dan arsitektur rumah di Sekala
Brak ini dijadikan rujukan bagi hampir seluruh bangunan di Provinsi Lampung.
B.
Fungsi/Kedudukan Rumah.
Rumah yang merupakan istana/Keraton
bagi sang Sultan disebut "GEDUNG DALOM". sedangkan rumah bagi para
Pemimpin Suku/Kebu yang disebut "Raja Suku/Raja Jukkuan" dianugerahi
nama oleh Yang Mulia Sultan (“Sai Batin”) bersamaan dengan penganugerahan
gelar/”adok” Raja untuk pertamakalinya contoh : Ibnu Hajar diangerahi Gelar
Raja Sempurna dan rumahnya di beri nama
“Sukamarga” maka nama rumah tersebut akan terus dipakai secara turun temurun
oleh Raja keturunan dari Raja Sempurna.
Pada setiap Kepaksian terdapat kelompok Jukkuan yang mengelola segala kegiatan di "Gedung Dalom" disebut "KAPPUNG BATIN" Kelompok tersebut mempunyai tugas khusus yang meliputi :
1. Menerima perintah "Sai
Batin" baik yang langsung disampaikan oleh Yang Mulia Sultan maupun yang
disampaikan melalui "Pemapah Dalom" (semacam Perdana Menteri).
2. Menampung saran, permohonan atau
laporan dari "Jukkuan Paksi" (Raja Suku) untuk disampaikan kepada
"Sai Batin".
Jumlah "Lamban di Kappung
Batin" disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing Paksi, khusus di
Kepaksian Pernong, "Kappung Batin" terdiri dari delapan
"Lamban" yaitu "Lamban Kekhatun, Lamban Bandung, Lamban Pakuwon,
Lamban Angkat Jaman, Lamban Gajah Minga, Lamban Kagungan, Lamban Balak dan
Lamban Sukamarga"
C.
Eksistensi Rumah Etnis Lampung.
![]() |
"Lamban Ugokhan Batin" Pekon Canggu Kepaksian Pernong |
"Lamban Ugokhan Batin"
yang ada dalam poto merupakan bentuk umum rumah komunitas adat "Sai
Batin" yang terdiri dari "BERANDA" yaitu ruang terbuka depan,
lalu dilengkapi dengan "LAPANG LUAKH" yaitu ruang tamu, "LAPANG
LOM" adalah ruang keluarga, "SEKHUDU" merupakan ruangan bagian
belakang yang diperuntukkan bagi ibu-ibu, dan "BILIK KEBIK" yaitu
kamar Utama serta "TEBELAYAKH" sebutan untuk kamar kedua, umumnya
rumah adat hanya terdiri dari dua kamar.
Pintu depan dari rumah adat disebut
"khangok sang Raja mulang" sedangkan pintu kamar utama disebut "khangok
Kebik", pintu kamar kedua disebut "khangok Dayang Pemapah" dan
pintu belakang disebut "khangok Dadakhi Mandi"
![]() |
"Cagak Lamban Ugokhan Batin" |
Rumah seperti ini dapat di jumpai di
perkampungan komunitas adat "SAI BATIN" yang tersebar di berbagai
"Pekon"/Desa di Bumi Lampung Barat Sai Betik, Negeri asal Sai Batin,
bisa disaksikan disepanjang jalan di Kecamatan Belalau, Batu Brak, Balik Bukit
dan Sukau, dan di Kabupaten Tanggamus, masih terdapat di Kecamatan Talang Padang,
Kota Agung, Wonosobo dan Semaka, serta di Bandar Lampung, ada di Negeri Olok
Gading Kecamatan Telukbetung Barat, sedangkan
pada komunitas adat "PEPADUN" masih bisa di jumpai di Labuhan
Maringgai.
"Cagak" yang berbentuk
kayu hakha merupakan ornament yang umumnya tepasang pada sudut rumah bagian
luar, terdiri dari empat lekuk, demikian juga bola-bola sebanyak empat buah,
dan semua jenis ukiran yang terdapat pada "cagak" tersebut serba
empat, hal tersebut melambangkan keberadaan Paksi Pak (Empat Kepaksian) Sekala
Brak, yang maksudnya menunjukkan tingkat peradaban yang tinggi. (SRC)
![]() |
Contoh perabot rumah adat Lampung |
Selamat sore pak. Saya tertarik dengan rumah adat lampung. Boleh minta email bapak? krn tadi saya email ke email yang ada di foto tidak bisa.Trims
BalasHapusIka
dengan senang hati Ika Rahma Ginting, email saya :
BalasHapusseemcanggu@yahoo.com